Saga
kembali menarik gas motornya dalam-dalam hingga kecepatan penuh, ia sudah tak
peduli dengan segala keselamatan baik untuk dirinya maupun oranglain. Hatinya
sungguh tak terima bila ayahnya itu akan menikah lagi. Tidak, bukan Saga tidak
senang ayah nya menikah lagi setelah 8 tahun sepeninggalan ibunya, akan tetapi
calon yang akan menjadi ibu tiri nya itu lah yang membuat kehidupan nya
berputar.
3 jam sebelumnya
“Ga, Maura minta maaf ya
sebelumnya, tapi saga harus janji jangan benci Maura setelah ini?” Saga menatap
gadis mungil dihadapan nya itu dengan pandangan jenaka. Maura mendengus kesal,
Saga memang susah untuk diajak serius.
“kali ini aku mau ngomong serius Ga,
tapi kamu harus janji sama aku?” Saga dapat melihat wajah serius milik
kekasihnya itu. “iya aku janji, sayang.” Saga meraih kedua telapak tangan milik
Maura. Akan tetapi Maura menepisnya dengan lembut. Saga menatap Maura heran,
dirinya mulai merasakan hatinya bergejolak.
“Ga, 2 bulan lagi papa kamu bakal
menikah kan?” Maura mengalihkan pandangannya dengan benda-benda di dalam
ruangan café tersebut, berusaha menghindari tatapan milik Saga. “iya. Kamun
kenapa si Ra?” Saga kembali meraih kedua tangan milik Maura dan menahan nya.
Kali ini Maura tidak mampu menepis nya.
“kamu masih belum tahu siapa calon
mama tiri kamu?” tanya Maura lagi. “you know me so well, Ra. Aku gak suka kamu
ngomong muter-muter gini.” Saga mulai jengkel dengan cara berbicara Maura yang
bertele-tele. Sedangkan Maura hanya menunduk kan kepalanya sambil menghembuskan
nafas berat berkali-kali. seperti ada puluhan kilogram batu Dipundaknya.
“minggu kemarin aku ketemu papa
kamu sama Bunda, ternyata selama ini papa kamu sama bunda aku dekat Ga.” Saga
mulai mendengar dengusan tangis Maura, Saga semakin bingung Apa yang terjadi
dengan kekasihnya itu. “bagus dong sayang, itu artinya aku sama kamu gak perlu
takut untuk gak direstuin.” Ucap saga dengan nada sedikit bercanda, dia ingin
mencairkan suasana yang ada.
“Bukan gitu Ga, masalahnya Papa
kamu sama Bunda ku itu dekat sebagai kekasih! Bunda ku calon mama tiri kamu
Ga!” Maura tak dapat lagi menahan tangisnya. Tanpa sadar intonasi berbicaranya
pun meninggi. Saga tak bisa bersuara lagi setelah kenyataan itu diungkapkan
Maura sedetik yang lalu. Sungguh hatinya tak bisa menerima.
Berkali-kali
dirinya merutuk sepanjang perjalanan menuju kantor ayahnya bekerja. Tidak, dia
tidak bisa menerima hal ini, otak nya tak bisa mencerna dengan baik sejak Maura
mengatakan bahwa Bunda Maura—Farah—akan menjadi ibu tirinya. Saga menyesali
ketidakpedulian nya terhadap ayahnya. Apa kah harus seperti ini akhir dari
hubungan percintaan nya dengan Maura? Hanya untuk sebatas hubungan adik kakak?
Saga kembali menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Telefon genggam nya terus
bergetar didalam saku kemeja sekolahnya, sejak tadi Maura mencoba menghubungi
Saga, tetapi laki-laki itu tidak mau mengangkatnya.
Hingga
akhirnya Saga Sampai di ruang kerja milik ayahnya, menunggu hingga sang ayah
selesai bertemu dengan client. Beberapa pasang mata milik karyawan ayahnya itu
menatap wajah masam nya. Saga menghempaskan tubuhnya diatas sofa berwarna
cokelat pastel, dan dengan kesal mengangkat telfon genggamnya. “Aku gak mau
putus dari kamu Ra! Aku gak terima, aku mau batalin semuanya.” Semprot Saga
tanpa mendengarkan Maura terlebih dahulu.
“Saga
aku mohon sama kamu, jangan kasih tahu mereka tentang hubungan kita, aku mau
mereka bahagia Ga. Aku mau bunda Bahagia, Kamu harus bisa mengerti keadaan Ga.”
Saga dapat mendengar isak tangis Maura. “kamu gak ngerti gimana aku Ra, kenapa
kamu gak ngeliat hati aku Ra! Aku cinta sama kamu sebagai bagian dari hidup
aku, bukan sebagai adik-kakak.” Saga memutuskan sambungan telfon itu secara
sepihak, dan membanting nya ke lantai hingga berserakan dilantai. Tak hanya
itu, Saga juga mematahkan Kartu Sim telfonya.
Tepat
pada saat itu, Ayahnya masuk dan terkejut dengan kehadiran anak laki-laki nya
itu. “kamu kenapa Saga?” ucap Arya dengan kerutan didahinya. Saga mengangkat
wajahnya, berdiri dan memandang ayahnya sekilas dengan tatapan kecewa, sang
ayah hanya mengernyit bingung saat Saga berbisik, “seharusnya ayah gak pernah
mencoba untuk menikah lagi. Dan mulai
sekarang ayah tidak akan mempunyai seorang anak laki-laki bernama Saga.”
Sejak
saat itu, Saga tak pernah kembali bertemu dengan Ayahnya maupun Maura, Saga
juga tak pernah pulang ke rumahnya. Berkali-kali Arya, Farah, dan Maura mencari
keberadaan Saga, tetapi hasilnya nihil. Saga tetap tak dapat ditemukan. Arya
hanya pernah mendengar, bahwa anak laki-laki nya itu sempat hadir dalam pesta
pernikahan nya dengan Farah, satpam rumahnya yang melihat Saga berdiri tak jauh
dari pagar rumah.
Semenjak
menghilangnya Saga dalam hidupnya, hati Maura menjadi nelangsa. Nilai akademik
nya turun drastis. Badan nya menjadi rentan terhadap virus penyakit.
Hingga
suatu saat Maura hendak pergi kesebuah toko buah, dia melihat nya. Dia melihat
Saga bersama dengan seorang wanita di dekapan nya, dan sesosok bayi mungil
ditangan wanita tersebut. Maura tak kuasa menahan tangisnya. Sekarang dirinya
tahu, mengapa Saga tak pernah muncul didalam kehidupannya kembali, ini semua
adalah Pilihan dari Hidup nya. Saga berhak menentukan Pilihannya untuk hidup
bahagia, dan Maura sudah menentukan hidupnya untuk tetap sendiri menyaksikan
bagaimana seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, hidup Bahagia.
Dibuat oleh : Fiorentina
Related Posts